Di balik hiruk-pikuk kampus ITB, tepatnya di kawasan Sekeloa, berdiri sebuah kantin sederhana yang telah menjadi saksi bisu perjalanan akademik ribuan mahasiswa selama lebih dari tiga dekade. Namanya tak mentereng di peta kuliner Bandung, namun bagi siapa pun yang pernah nongkrong di sekitar kampus teknik ini, Kantin Ibu Tatang adalah legenda rasa yang tak tergantikan.
Sejak pertama kali membuka gerai kecilnya pada awal 1990-an, Ibu Tatang—demikian ia akrab disapa—telah menyajikan makanan rumahan dengan harga terjangkau dan rasa yang konsisten. Nasi campur hangat dengan lauk telur balado, ayam goreng lengkuas, atau oseng kangkung bercampur teri, bukan hanya mengisi perut, tapi juga menghangatkan kenangan masa kuliah. Bagi banyak alumni, aroma dapur Ibu Tatang adalah aroma nostalgia akan malam begadang menyelesaikan tugas, diskusi kelompok yang tak kunjung usai, atau sekadar tempat melepas rindu pada masakan rumah.
Yang membuat kantin ini istimewa bukan hanya menunya, tapi juga keramahan Ibu Tatang yang memperlakukan setiap mahasiswa seperti anak sendiri. Ia tahu siapa yang sedang ujian, siapa yang baru putus cinta, bahkan siapa yang belum bayar utang makan minggu lalu—tapi tetap dilayani dengan senyum.
Di tengah gempuran kedai kekinian dan restoran cepat saji, keberadaan kantin seperti milik Ibu Tatang justru menjadi oase autentisitas. Tempat di mana rasa tak hanya soal lidah, tapi juga soal hati dan memori. Jika suatu hari Anda berkunjung ke Sekeloa, jangan lewatkan momen menyantap hidangan sederhana yang sarat makna ini—sebelum kenangan itu hanya tersisa dalam cerita.
Untuk pengalaman kuliner lain yang tak kalah autentik, Anda juga bisa menjelajahi menu Mediterania kontemporer di Indobet.